nostalgia SMA kita..

hmm… Setelah sekian lama… Rasanya tangan ini sudah tak lagi bersahabat dengan pena. Ingin sekali kembali ke masa, dimana ambisi masih tetap bermimpi menjadi seorang author. Dunia ini indah dengan goresan pena. Dan dunia ini menawan dengan barisan kata. Keinginan kuat muncul dalam hati saat itu. Segala macam inspirasi dan ide mulai bercucuran seperti air terjun yang tak pernah berhenti mengalir.
Hmmmm… Dunia ini begitu misterius. Ingin rasanya kembali ke masa-masa penuh semangat dan prestasi. Saat saling membangunkan untuk sholat tahajud. Saat saling memberikan semangat ketika lesu. Saling mengajari ketika yang lain tak mengerti. Entah kekuatan apa yang bisa memberikan spirit luar biasa kala itu..
Rasanya, dunia sudah tunduk dan menyerah untuk terus menggoda supaya menjadi malas dan pesimis. Masa-masa itu, sungguh sukar dilupakan.
Spirit itu, yang tak ada lagi saat ini.
Entah ! Andaikan waktu bisa diulang, masa-masa itu yang akan menjadi tujuan utama untuk transit.
Rindu.. Rindu.. Rindu..
Rindu, saat demo protes menentang kelas acak pada Waka Kurikulum..
Rindu, saat dimarahi guru ketika kelas selalu gaduh..
Rindu, saat pesta mangga oprok penangkal typus..
Rindu, saat ketua kelas memohon agar anggotanya masuk les dengan lengkap..
Rindu, saat menonton teman tidur dalam kelas hingga air liurnya menetes-netes..
Rindu, saat-saat berdebar menanti ujian nasional..
Rindu, saat bersama-sama berjuang dengan kata-kata penyemangat,” kita masuk bersama, keluar juga harus bersama”..
Rindu, saat berjuang mati-matian agar bisa lulus 100%..
Rindu.. Rindu dan rindu..
Berjuta rindu mengendap dalam hati. Menantikan kapan akan bertemu muara..
Memang benar, jalan lurus yang akhirnya bertemu dengan persimpangan. Memaksakan adanya perpisahan.
Memori itu hanya tinggal angan.
Tawa, tangis, canda, susah, senang, sedih, bahagia, marah, sayang, benci, cinta..
Sudah terbendel jadi satu. Kini, bendelan itu telah menjadi dokumen penting yang suatu saat dapat dibuka kembali untuk dikenang.
Tuhan.. Begitu indah skenarioMu. Predikat cumlaud dan mumtaz memang pantas untuk skenario sempurna. Tawa yang diberikan dengan indah, tangis yang disuguhkan dengan menarik, kemudian canda yang dihadirkan dengan mempesona. Semuanya…
Memang bernilai sempurna tanpa cacat.. 🙂 :*

Iklan